Apa yang Terjadi pada Tsunami Selat Sunda 2018?
ada-ohio.org – Tsunami Selat Sunda 2018 adalah salah satu bencana alam paling mengejutkan di Indonesia. Tidak seperti tsunami yang biasanya dipicu oleh gempa bumi, tsunami Selat Sunda terjadi akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018. Tsunami ini menghantam pantai di sekitar Selat Sunda, terutama di wilayah Banten dan Lampung, menyebabkan ratusan korban jiwa serta ribuan rumah hancur.
Baca Juga: Gempa Nepal 2015: Tragedi Dahsyat yang Mengguncang Himalaya
Penyebab Tsunami Selat Sunda 2018
1. Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi besar pada 22 Desember 2018, yang menyebabkan longsoran bawah laut. Longsoran inilah yang memicu gelombang tsunami tanpa peringatan dini, sehingga masyarakat di pesisir tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri.
2. Tidak Ada Gempa Sebagai Peringatan Dini
Berbeda dengan tsunami yang umumnya diawali oleh gempa bumi besar, tsunami Selat Sunda 2018 terjadi tanpa adanya aktivitas seismik yang signifikan. Hal ini membuat banyak warga tidak waspada terhadap kemungkinan tsunami.
3. Longsoran Bawah Laut
Akibat letusan Gunung Anak Krakatau, sebagian tubuh gunung mengalami runtuhnya lereng bawah laut. Ini memicu gelombang besar yang akhirnya menghantam pesisir Banten dan Lampung hanya dalam waktu kurang dari satu jam setelah letusan.
Baca Juga: Gempa dan Tsunami Palu 2018: Penyebab, Dampak, dan Upaya Pemulihan
Dampak Tsunami Selat Sunda 2018
1. Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur
Tsunami ini mengakibatkan lebih dari 400 korban jiwa, ribuan orang luka-luka, serta puluhan ribu rumah dan bangunan rusak. Daerah yang paling terdampak adalah Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.
2. Kerusakan di Sektor Pariwisata
Banyak resor wisata di Pantai Anyer dan Tanjung Lesung mengalami kerusakan parah akibat gelombang tsunami. Ini berdampak besar pada sektor ekonomi dan pariwisata di Banten dan Lampung.
3. Trauma dan Ketakutan Masyarakat
Tsunami yang datang tiba-tiba tanpa peringatan menyebabkan trauma mendalam bagi masyarakat pesisir. Banyak orang yang takut untuk kembali ke rumah mereka karena takut akan adanya tsunami susulan.
Upaya Mitigasi dan Pelajaran dari Tsunami Selat Sunda 2018
1. Peningkatan Sistem Peringatan Dini
Setelah bencana ini, pemerintah dan BMKG berusaha meningkatkan sistem peringatan dini tsunami, terutama yang diakibatkan oleh aktivitas vulkanik. Bojong radar dan sensor bawah laut menjadi salah satu solusi untuk mendeteksi kemungkinan tsunami lebih cepat.
2. Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
Pemerintah dan organisasi kemanusiaan mulai memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tanda-tanda tsunami akibat gunung meletus serta cara menyelamatkan diri dengan cepat.
3. Pemantauan Gunung Anak Krakatau
Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara ketat untuk mencegah terulangnya bencana serupa. Pemerintah juga telah membatasi aktivitas manusia di sekitar gunung demi keselamatan